SUMU.OR.ID – Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) mendorong lahir dan tumbuhnya lebih banyak pengusaha di sektor manufaktur melalui agenda re-industrialisasi. Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi gerakan ekonomi Muhammadiyah untuk membangun kemandirian dan memperkuat kesejahteraan masyarakat di abad kedua.
Direktur sekaligus Sekretaris Jenderal Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU), Ghufron Mustaqim mengatakan, penguatan sektor industri diperlukan agar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak hanya bertahan dalam skala usaha kecil, tetapi dapat berkembang melalui ekosistem bisnis dan rantai pasok industri.
Hal itu disampaikan Ghufron dalam Kopi Darat SUMU bersama puluhan pengusaha Muhammadiyah di Medan, Jumat (18/9/26). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Sumatera Utara tersebut menjadi momentum awal penguatan jejaring SUMU di Kota Medan.
Menurut Ghufron, SUMU hadir sebagai wadah bagi pengusaha maupun calon pengusaha, baik dari kalangan Muhammadiyah maupun masyarakat yang belum menjadi bagian dari Muhammadiyah, untuk membangun jejaring, berbagi pengalaman, dan mengembangkan kapasitas bisnis.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris PW Muhammadiyah Sumatera Utara Dr. Irwan Syahputra, M.A., Ketua LPUMKM PW Muhammadiyah Sumatera Utara Muhammad Irsyad, Ketua Majelis Ekonomi PDM Medan Muhammad Syafii, serta sejumlah pengusaha Muhammadiyah di Medan.
Dalam agenda tersebut, dialog interaktif menghadirkan Ghufron Mustaqim dan Ketua LPUMKM PW Muhammadiyah Sumatera Utara Muhammad Irsyad, M.I.Kom., dengan moderator Yudha Pratama.
Ghufron menjelaskan bahwa pendekatan SUMU bukan semata-mata memberikan tambahan modal kepada pelaku UMKM. Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi UMKM adalah keterbatasan skala pasar, produktivitas, dan keterhubungan dengan industri yang memiliki kapasitas lebih besar.
Karena itu, SUMU mendorong agenda re-industrialisasi sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi. Gagasan tersebut oleh Ghufron disebut sebagai bentuk aktualisasi Al-Ma’un Abad ke-21, yakni menghadirkan keberpihakan kepada masyarakat melalui penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan produktivitas.
“UMKM tidak akan naik kelas tanpa mesin penarik berskala besar. Mesin penarik itu adalah industrialisasi,” ujar Ghufron.
Ia menjelaskan, pertumbuhan industri akan menciptakan rantai pasok yang lebih panjang. Dalam ekosistem tersebut, UMKM dapat menjadi bagian dari rantai produksi, distribusi, maupun penyediaan barang dan jasa sehingga pertumbuhan industri turut membuka ruang bagi peningkatan skala usaha UMKM.
Menurut Ghufron, industrialisasi juga memiliki kapasitas besar dalam menyerap tenaga kerja, termasuk tenaga kerja yang sebelumnya berada di sektor berproduktivitas rendah, untuk kemudian beralih menjadi tenaga kerja yang lebih produktif.
Ia mencontohkan perkembangan sejumlah negara di Asia Timur, termasuk China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, yang menurutnya dapat menjadi bahan pembelajaran dalam membangun basis manufaktur. Salah satu strategi yang ia soroti adalah pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian menuju sektor manufaktur yang berorientasi ekspor.
“Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan China mengalami pertumbuhan pendapatan per kapita yang tinggi selama beberapa dekade dengan memperluas basis manufaktur dan memindahkan tenaga kerja dari sawah ke pabrik yang berorientasi ekspor,” katanya.
Ghufron juga menyoroti perubahan kondisi kemiskinan di kawasan Asia Timur dalam beberapa dekade terakhir. Menurutnya, industrialisasi dan peningkatan produktivitas menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap transformasi ekonomi kawasan tersebut.
Sebaliknya, ia menilai Indonesia perlu memperkuat kembali basis industrinya agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok masyarakat tertentu. Ia menyoroti masih banyak masyarakat yang menggantungkan pendapatan pada pekerjaan dengan produktivitas dan perlindungan ekonomi yang relatif terbatas, seperti pengemudi transportasi daring, pedagang kaki lima, dan buruh harian lepas.
“Tanpa re-industrialisasi, pertumbuhan Indonesia berisiko hanya menyisakan segelintir orang di puncak dan menyerakkan mayoritas masyarakat ke pinggiran kehidupan,” tegasnya.
Karena itu, SUMU berkomitmen menjadikan re-industrialisasi sebagai salah satu agenda strategis dalam membangun ekosistem usaha Muhammadiyah. Bagi SUMU, industrialisasi bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga bagian dari upaya menerjemahkan nilai keberpihakan sosial ke dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan penguatan kesejahteraan masyarakat.
“Untuk itulah SUMU bertekad membawa mandat teologis abad ke-21: industrialisasi sebagai wujud nyata Al-Ma’un,” pungkas Ghufron.










































































































































































































































































































