Islam Mendorong Umatnya Menjadi Pengusaha

March 26, 2024

Kalau kita melihat daftar orang-orang terkaya di dunia seperti Bil Gates, Jack Ma, Elon Musk, Jeff Bezos, Warren Buffett, Larry Ellison dan sebagainya, profesi yang membuat orang-orang tersebut menjadi kaya berasal dari pengusaha atau pebisnis. Kita pasti sepakat jika membangun bisnis adalah salah satu cara berpotensi menjadi kaya secara finansial. Karena sistem menghasilkan uang dalam bisnis itu tidak terikat dengan waktu dan potensi pendapatannya pun tidak terbatas.

Selain daftar nama-nama orang terkaya di atas, orang-orang Muslim juga memiliki sejarah sebagai wirausahawan sukses seperti Nabi Muhammad dan para sahabatnya telah berkecimpung di dunia wirausaha. Sebut saja ‘Abdurrahman ibn ‘Awf, Az Zubayr ibn al ‘Awwam, ‘Utsman ibn ‘Affan, Thalhah ibn ‘Ubaydillah, dan Sa’d ibn Abi Waqqash. Untuk itu, menjadi seorang pengusaha bukanlah hal asing bagi seorang muslim. Islam mengajak seluruh umat muslim untuk menjadi pengusaha.

Kenapa Harus Menjadi Pengusaha?

Ada beberapa alasan mengapa umat Islam dianjurkan untuk berwirausaha:

Pertama, mendorong kemandirian ekonomi. Dengan berwirausaha, umat Islam dapat menjadi mandiri secara ekonomi, tidak hanya mengandalkan gaji atau pendapatan dari pihak lain. Kedua, mencari Berkah. Dalam ajaran Islam, usaha yang dilakukan dengan niat baik dan berdasarkan prinsip-prinsip Islam diyakini akan mendapatkan berkah dari Allah.

Ketiga, menjaga nilai-nilai Islam. Dengan memiliki usaha sendiri, umat Islam dapat lebih mudah untuk menjaga nilai-nilai Islam dalam berbisnis, seperti jujur, adil, dan amanah.

Keempat, memberi manfaat kepada masyarakat. Berwirausaha juga memungkinkan umat Islam untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, baik melalui produk atau jasa yang bermanfaat maupun dengan memberikan lapangan kerja.

Kelima, membangun ekonomi umat. Dengan berwirausaha, umat Islam dapat berkontribusi dalam membangun ekonomi umat dan meningkatkan kesejahteraan bersama.

Pengusaha Dilahirkan atau Diciptakan?

Sebagai salah satu upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan melahirkan banyak pengusaha baru adalah hal yang perlu dilakukan. Namun muncul pertanyaan apakah pengusaha itu diciptakan atau dilahirkan?

Ada dua pendekatan dalam menjawab pertanyaan tersebut, yakni pendekatan klasikal dan event studies. Secara klasikal, karakter pengusaha sudah muncul sejak lahir dan sulit untuk dipelajari sedangkan secata event studies. Bahwa faktor-faktor lingkungan yang membawanya menghasilkan pengusaha atau dengan kata lain pengusaha itu diciptakan.

Terlepas dari perbedaan tersebut, menjadi wirausahawan tidaklah cukup hanya dilahirkan ataupun hanya karena dibentuk. Sebab kompleksitas masalah yang dihadapi dunia usaha sekarang tidaklah cukup hanya bermodalkan bakat saja. Maka, wirausahawan yang berhasil adalah yang memiliki bakat dan selanjutnya dibentuk melalui pendidikan, pelatihan, atau bergaul dalam komunitas. (Utari Evi Cahyani, Konsep Kewirausahaan Dalam Konteks Pilihan Karir Seorang Muslim, 262-263)

Prinsip Sukses Dunia Akhirat

Untuk menjadi wirausahawan tidak serta merta hanya mencari materi saja, namun juga harus dilandasi dengan sikap dan juga etika. Sebab, jika berwirausaha hanya berpatokan pada materi saja, maka bisa dipastikan ia akan melakukan segala cara demi memperkaya diri sendiri.

Adi Hidayat dalam youtubenya yang berjudul Kiat Menjadi Pengusaha Sukses menjelaskan bahwa baik Usman bin Affan dan Abdurahman bin Auf mengamalkan nasehat Nabi terkait membangun hubungan baik dengan Allah. Jadi, mereka adalah orang yang sama-sama diajak oleh Abu Bakar As-Shidiq dan sama-sama golongan 40 orang yang masuk Islam pertama kali.

Hal ini karena secara teori yang menguasai, yang memberi rezeki, yang memberikan kemudahan, yang mengentaskan kesulitan adalah Allah Swt. Berbeda halnya jika seseorang menginginkan limpahan rezeki, bisnis lancar, tidak terjebak pada kesulitan yang sulit di atasi tapi jauh dari Allah, bagaimana itu bisa selesai? Meskipun ada orang-orang yang jauh dari Allah dan lebih mengedepankan kekuatan dirinya, kadang-kadang dibiarkan oleh Allah sampai merasa mampu, hingga akhirnya menyerah dan menyebut nama Allah.

Oleh karena itu, perilaku berbisnis seorang muslim sangat menetukan kesuksesannya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Audia Rusdi Rasyid menjelaskan dalam jurnalnya Konsep Kewirausahaan Modern Perspektif Islam dan Praktiknya di Indosesia bahwa perilaku berbisnis seseorang dapat dilihat dari ketakwaannya, keamanahannya, rendah hati, cara pelayanannya terhadap pelanggan, serta seluruh kegiatan bisnisnya hanya dilakukan untuk beribadah.

Konsep Dasar Kewirausahaan

Adapun Indah Kurniati, Isnanita Noviya Andriyani, dan Azis dalam karyanya Konsep Kewirausahaan dalam Tafsir Al-Azhar dan Relevansinya dengan Materi Mata Kuliah Kewirausahaan menyebutkan bahwa ada 4 ayat yang menjadi acuan dalam berwirausaha. Ayat-ayat yang menjadi dasar atau pondasi untuk melakukan kewirausahaan itu sebagai berikut.

Pertama, dasar bekerja pada QS. At-Taubah ayat 24. Ayat ini menjelaskan proses penghidupan manusia dalam dunia kewirausahaan seperti perniagaan, jual beli, cinta harta, dan cinta dunia tidak akan bernilai jika tidak didasarkan cinta kepada Allah sebagai sumber penghidupan manusia. Sebab Allah tidak melarang manusia mencintai dunia, karena hal itu telah menjadi naluri dalam jiwanya. (Hamka, 2015, Tafsir Al-Azhar Jilid 4, 106)

Kedua, tujuan bekerja adalah ibadah pada QS. ayat 105. Lewat ayat ini Allah ingin menjelaskan bahwa menyuruh bekerja sesuai bakat, tenaga dan juga kemampuan. Ayat ini menjadi larangan keras untuk malas dan membuang-buang waktu. Kualitas pekerjaan harus selalu ditingkatkan dan selalu memohon petunjuk dari Allah. (Hamka, 2015, Tafsir Al-Azhar Jilid 4, 282)

Ketiga, syarat-syarat bekerja pada QS. Faatir ayat 29. Ayat ini menjelaskan bagi mereka yang tidak ingin merugi dalam berusaha ada tiga hal, yaitu selalu membaca Al-Qur’an, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Manusia yang memiliki kepribadian demikian akan mendapat kekayaan jiwa yang selalu diridhoi Allah, selalu peduli dengan orang lain dan selalu terkontrol dalam pengawasan Allah. (Hamka, 2015, Tafsir Al-Azhar Jilid 4, 374)

Keempat, bekerja yang tidak melupakan akhirat pada QS. An-Nur ayat 37. Ayat ini menyebutkan ciri-ciri mereka yang tidak lalai dalam menjalankan perdagangan dan jual beli di dunia adalah selalu melatih jiwa dengan mendekati Allah melalui; mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, membebaskan dan melepaskan dari pengaruh benda, pangkat kebesaran dan kekayaan, jual beli dan untung rugi, tidak gentar atau takut terhadap perkisaran hari dan masa, tidak gentar melihat naik dan turun pasang zaman, serta penglihatannya tidak terpesona oleh warna warni yang palsu. (Hamka, 2015, Tafsir Al-Azhar Jilid 4, 308)

Kesimpulan

Dari penjelasan singkat di atas dapat dipahami bahwa Islam sejatinya tidak asing dengan dunia kewirausahaan bahwa sejarah Islam telah mencatat mereka yang sukses di dunia wirausaha. Poinnya adalah ketika berwirausaha tidak hanya berfokus pada materi dunia saja, tapi juga akhirat. Sehingga pengusaha yang lahir akan menjadi pengusaha yang sukses dunia dan juga akhirat.

Sumber : https://tanwir.id/islam-mendorong-umatnya-menjadi-pengusaha/

Profil Bisnis Lainnya

Mahfudz Syarif, Pelaku Usaha Bidang IT yang Kebanj…
Fachrur Rozi, Bantu Pengelola Tempat Wisata dengan…
Arung Bachri Emge, Sukses Pertahankan Toko Grosir …
Brili Agung, Pulang dan Membangun Kampung Halaman …
Lambang Saribuana, Pebisnis Kargo yang Sukses Berk…
Osman Nur Chaidir, Bersama Kawan Sukses Kembangkan…