Kalau urusan kemampuan digital, generasi Z memang tidak perlu diragukan lagi. Mereka lahir di era internet, tumbuh bersama media sosial, dan terbiasa menggunakan teknologi sejak kecil. Namun, di balik kecanggihan itu, ada fenomena yang cukup mengkhawatirkan: Gen Z melek digital, tapi nggak melek finansial.
Data terbaru menunjukkan bahwa kredit macet pinjaman online (pinjol) di Indonesia mencapai Rp 2,01 triliun pada 2024, dan sebagian besar korbannya berasal dari kalangan Gen Z dan milenial. Kondisi ini membuat banyak pihak khawatir karena generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi justru terjebak dalam masalah keuangan sejak dini.
Mengapa Gen Z Rentan Masalah Finansial?
Ada beberapa alasan mengapa generasi Z mudah terjerat pinjol:
- Gaya Hidup Konsumtif Tinggi
Media sosial membuat Gen Z selalu ingin tampil up-to-date. Tren fesyen, gadget terbaru, hingga kebutuhan gaya hidup sering kali mendorong mereka untuk belanja impulsif tanpa mempertimbangkan kemampuan bayar. - Akses Mudah ke Pinjol
Dengan sekali klik, siapa pun bisa mengajukan pinjaman online. Proses cepat tanpa ribet membuat banyak anak muda tergoda, padahal tidak semua memahami konsekuensi bunga dan cicilan. - Literasi Keuangan Rendah
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan Gen Z hanya sekitar 44,04%, lebih rendah dibanding generasi milenial. Artinya, banyak yang belum memahami cara mengatur keuangan, investasi, atau bahkan risiko berutang. - Manajemen Keuangan Buruk
Banyak Gen Z yang belum terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran. Akibatnya, mereka tidak tahu ke mana uang pergi dan mudah terjebak dalam utang konsumtif.
Fakta Menarik Tentang Gen Z dan Keuangan
- Jumlah Gen Z di Indonesia mencapai 75,49 juta jiwa atau sekitar 27,94% dari total populasi.
- Sebanyak 35,5% Gen Z bercita-cita menjadi pengusaha (World Economic Forum 2019).
- Namun, hanya sekitar 19,48% yang benar-benar terjun jadi pengusaha (Global Threat Report 2024).
- Gen Z paling dominan dalam penggunaan internet dengan kontribusi 25,54%.
Artinya, ada potensi besar bagi Gen Z untuk menjadi penggerak ekonomi melalui kewirausahaan, tapi ancaman rendahnya literasi finansial bisa menjadi batu sandungan serius.

Bahaya Kredit Macet Pinjol
Kredit macet pinjol bukan hanya sekadar utang yang menumpuk. Ada banyak dampak serius, antara lain:
- Skor kredit buruk, sehingga sulit mengajukan pinjaman di kemudian hari.
- Beban psikologis, seperti stres dan kecemasan karena dikejar penagih.
- Menghambat cita-cita, seperti memiliki rumah sendiri, menikah tanpa beban utang, hingga membangun usaha mandiri.
Bahkan, jika tren ini terus berlanjut, banyak Gen Z yang akan kesulitan mencapai mimpi jangka panjang, termasuk pensiun sejahtera atau menjadi pengusaha sukses.
Solusi: Gen Z Harus Melek Finansial
Untuk mencegah generasi muda semakin terjerat masalah pinjol, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Edukasi Literasi Keuangan Sejak Dini
Kurikulum pendidikan sebaiknya tidak hanya fokus pada ilmu akademik, tetapi juga mengajarkan cara mengatur keuangan, investasi, hingga risiko utang. - Mendorong Kebiasaan Mencatat Keuangan
Dengan aplikasi keuangan digital, Gen Z bisa lebih mudah memantau pengeluaran dan menekan gaya hidup konsumtif. - Mengedepankan Finansial Sehat Sebelum Berwirausaha
Minat berwirausaha Gen Z memang tinggi, tapi tanpa pondasi finansial yang kokoh, bisnis sulit bertahan. Penting bagi calon pengusaha muda untuk memahami arus kas, permodalan, dan manajemen risiko. - Bijak Menggunakan Pinjol
Pinjaman online sebaiknya digunakan untuk hal produktif seperti modal usaha, bukan untuk memenuhi gaya hidup semata.
Gabung jadi Member SUMU buat update terus info seputar peluang usaha!
Fenomena Gen Z melek digital tapi nggak melek finansial adalah masalah nyata yang tidak boleh diabaikan. Jika dibiarkan, kredit macet pinjol yang kini mencapai triliunan rupiah bisa semakin membebani generasi muda Indonesia.
Sebagai pelaku usaha maupun individu, kita harus sadar bahwa pondasi finansial yang kuat adalah kunci membangun masa depan yang kokoh. Tanpa itu, mimpi memiliki rumah, hidup bebas utang, atau menjadi pengusaha sukses hanya akan jadi angan-angan.





































































































































































































































































