Anjuran Melakukan Wirausaha dalam Al-Quran

February 26, 2024

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang membimbing umat untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Jika kebahagiaan di akhirat diraih dengan melakukan amal baik dan meninggalkan amal buruk, maka kebahagiaan di dunia adalah dengan tercapainya dan tersedianya kebutuhan. Baik yang bersifat primer, sekunder maupun tersier dalam kehidupan dan itu semua termasuk kegiatan ekonomi.

Kegiatan ekonomi telah menjadi kajian dan dasar pengembangan keilmuan ekonomi Islam. Karena di dalamnya berbicara tentang ekonomi, seperti zakat, infak, sedekah, hibah dan konsep ekonomi lain seperti riba, jual beli, keadilan dan lain sebagainya. Sehingga secara tidak langsung, Al-Qur’an juga memotivasi umat untuk berperan aktif dalam ekonomi.

Entreprenuership atau wirausaha merupakan salah satu perilaku ekonomi yang patut dikembangkan oleh umat Islam khususnya dan masyarakat pada umumnya. Karena dengan wirausaha seseorang akan mampu mengelola sumber daya yang dimiliki dengan membuka pasar baru, mengembangkan produk, membuka lapangan kerja, pengembangan inovasi dan berpikir cerdas dalam kegiatan ekonomi. (Abdiansyah Linge dan Upi Sopiah Ahmad, Entrepreneurship dalam Perspektif Al-Qur’an dan Etnologi, h. 2)

Al-Qur’an secara khusus memang tidak ‘memerintahkan’ untuk berwirausaha tetapi memberikan pedoman bagaimana seseorang harus menjalani kehidupan yang bermanfaat dan bertanggungjawab. Hal itu dapat diraih dengan mendorong seseorang untuk bekerja keras dan berusaha mencari rezeki yang halal untuk memenuhi kebutuhannya dan membantu orang lain.

Anjuran Melakukankan Wirausaha

Untuk mencapainya, Al-Qur’an memotivasi manusia untuk bekerja mencari penghidupan sebagaimana firman Allah pada QS. Al-Jumu’ah ayat 10, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.

Ayat di atas mengandung landasan untuk menyeimbangkan ibadah ritual dengan ibadah sosial dengan cara berpencar di muka bumi untuk mencari karunia Allah sesuai dengan skill dan profesi masing-masing. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, h. 259).

Selain itu, beberapa ayat lainnya juga menganjurkan untuk bekerja. Seperti QS. An-Najm ayat 39, “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

Para mufasir memiliki banyak pemahaman terhadap ayat ini. Di antaranya bahwa ayat ini mendeskripsikan orang-orang yang beramal saleh pantas mendapatkan pahala atas apa yang telah mereka kerjakan. Meski begitu, ayat ini dapat digunakan dalam memahami masalah kewirausahaan karena kewirausahaan adalah tentang eksekusi ide sehingga mendapat hasil darinya. Bahwa yang didapat manusia adalah apa yang mereka kerjakan, bukan apa yang mereka angankan.

Adapun ayat lain yang membahas tentang anjuran waktu mencari penghidupan adalah pada QS. An-Naba ayat 11, “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”.

Ayat di atas menurut para mufasir seperti Fakhruddin al-Razi, al-Baghawi, Ibnu Jauzi dan lain sebagainya menyatakan bahwa di samping Allah menciptakan malam sebagai istirahat, Allah menciptakan siang sebagai waktu untuk mencari rezeki, dan keperluan dunia yang lain. Terkhusus, pekerjaan yang paling baik, sabda Nabi Muhammad SAW, adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri. Misal, usaha sendiri, membangun jaringannya sendiri, dan lain sebagainya. (Ali Imron, Saat Al-Quran Berbicara tentang Wirausaha)

Wirausaha yang Menjanjikan

Dalam melakukan wirausaha, jual beli menjadi primadona. Karena keuntungan dan perputaran modal yang cepat telah menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin terjun ke dunia wirausaha. Meski begitu, QS. An-Nisa’ ayat 29 memberikan penjelasan tentang jual beli yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga membawa keberkahan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa’ ayat 29)

Ayat di atas menurut Imam Nasafi dalam karyanya Tafsir An-Nasafi menjelaskan larangan tentang memakan harta dengan cara yang batil seperti pencurian, khianat, perampasan, atau segala akad yang mengandung riba.

Alih-alih melakukan perbuatan batil, ayat ini menganjurkan untuk mendapatkan harta dari cara yang benar yaitu tijarah (perdagangan). Perdagangan yang dimaksud adalah perdagangan atas dasar suka sama suka, bukan seenaknya saja. Sehingga kedua belah pihak melakukan perdagangan dengan dasar rela semisal jual beli, sewa menyewa, kerjasama dan sebagainya.

Berwirausaha erat kaitannya dengan kepercayaan. Maka perlu adanya dokumentasi ataupun bukti baik berupa jaminan atau tulisan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebagaimana bunyi QS. Al-Baqarah ayat 283:

“Jika kamu dalam perjalanan, sedangkan kamu tidak mendapatkan seorang pencatat, hendaklah ada barang jaminan yang dipegang. Akan tetapi, jika sebagian kamu memercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya. Janganlah kamu menyembunyikan kesaksian karena siapa yang menyembunyikannya, sesungguhnya hatinya berdosa. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Ayat di atas membahas tentang jaminan atau tanggungan yang harus diserahkan kepada pemilik piutang. Hal ini dilakukan di perjalanan dan tidak ada juru tulis untuk menuliskannya.

Kesimpulan

Dengan keterangan di atas bukan berarti bahwa semua perjanjian muamalah wajib ditulis oleh juru tulis dan disaksikan oleh saksi-saksi, tetapi maksudnya agar kaum Muslimin selalu memperhatikan dan meneliti muamalah yang akan dilakukannya.

Dari penjelasan singkat ini, dapat dipahami bahwa Al-Qur’an, meski tidak secara langsung menjelaskan perintah tentang kewirausahaan, tetapi Al-Qur’an menganjurkan umatnya atau memberi pedoman untuk berwirausaha agar menjadi bermanfaat dalam kehidupannya. Lebih-lebih bagi orang lain. Sebab dengan begitu, orang-orang akan terselamatkan dari meminta-minta. Rasulullah menekankan hal ini dengan bersabda,”Tangan di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan di bawah (penerima)” (HR. Muslim).

Sumber : https://tanwir.id/anjuran-melakukan-wirausaha-dalam-al-quran/

Profil Bisnis Lainnya

Mahfudz Syarif, Pelaku Usaha Bidang IT yang Kebanj…
Fachrur Rozi, Bantu Pengelola Tempat Wisata dengan…
Arung Bachri Emge, Sukses Pertahankan Toko Grosir …
Brili Agung, Pulang dan Membangun Kampung Halaman …
Lambang Saribuana, Pebisnis Kargo yang Sukses Berk…
Osman Nur Chaidir, Bersama Kawan Sukses Kembangkan…